Balada Internet

smtn285lAku tinggal di sebuah kota kecil, jadi agak terlambat untuk mengenal internet -sebah komputer yang bisa tersambung ke jaringan komputer di seluruh dunia- secara langsung: langsung melihatnya, langsung menggunakannya, langsung memanfaatkan fasilitasnya.

Sewaktu aku masih SD, sekitar tahun ‘90-an, aku membaca mengenai internet dari majalah Bobo. Beberapa edisi terbitannya membahas mengenai internet yang lengkap dengan ilustrasi perangkat yang diperlukan, pengiriman data dan penerimaannya. Sayangnya waktu itu aku cuma bisa membayangkan dan memendam keinginan karena kotaku entah kapan akan dijangkau oleh internet sedangkan komputer waktu itu masih sangat langka dan telepon masih menjadi barang mewah.

Tahun 2000, ini berarti sepuluh tahun kemudian internet sudah ada di kotaku. Akhirnya……..-aku bahkan sudah melupakan keinginanku menggunakan internet -ada dua warung internet di kotaku: di kantor pos dan di sebuah wartel. Warnet di kantor pos sejamnya enam ribu sedangkan di wartel satu-satunya yang membuka warnet, tarif per jamnya sepuluh ribu. Ini pun dengan kemampuan akses yang lamaaaaaaaaa….. sekali. Mungkin kurang dari 48 kbps.

Setahun berikutnya warnet di kantor pos itu sudah mulai dikelola dengan serius dan pasti jam bukanya (meskipun nggak pasti-pasti amat).

Temanku mengajariku membuat email di yahoo. Oh….oh….. aku bersemangat sekali. Email?! Electronic mail? Kita bisa punya alamat, mengirim dan menerima di mana saja asalkan terhubung dengan internet?! Aku senang berkorespondensi. Aku punya beberapa sahabat pena saat aku masih SD dan terjalin sampai kami SMA. Dan email ini…..ini sungguh berita baik! Berita yang sangat baik! Karena aku selalu tidak sabar menunggu surat-surat dari kawan-kawanku datang. Ya, aku harus menunggu surat mereka hingga dua minggu, sebab kalau mengirim dengan kilat khusus biayanya menguras uang sakuku.

Akhirnya aku punya sebuah alamat email, dan alamat email itu aku gunakan sampai sekarang.

Tidak lama setelah alamat email pertamaku, aku lulus SMA dan melanjutkan kuliah di Jogja, berpisah dari teman-temanku. Pertama kali jauh dari rumah aku merasa sangat kesepian dan terasing. Aku belum menemukan “dunia”-ku. Aku belum menemukan teman-teman seperti teman-temanku di SMA. Untungnya dekat kosku ada sebuah warnet, dan tentu saja aku sering ke sana. Jogja sunggu surga untuk mahasiswa. Di sini kita bisa menemukan warnet di mana-mana, warung makan di mana-mana, bahkan dalam radius 300 meter pun kita bisa menemukan dua buah warnet. Dan yang lebih penting adalah……tarif yang murah

Gara-gara internet aku jadi punya kenalan-kenalan baru dari dunia maya dan dunia nyata. Ya, dunia nyata juga. Karena teman-teman kos dan teman-teman kuliahku banyak yang gaptek. Sebagian dari mereka tidak pernah menyentuh komputer sama sekali. Hmmm…..lalu aku ajak mereka ke warnet dan aku ajari browsing, membuat email, juga….. chating!!! Hehehe….. Teman-teman lain juga mau diajari, jadi kami sering rame-rame ke warnet, dan aku salah nggak ya, kalau mereka jadi…..doyan chating?!!! Oh….oh……kami sering chating sampai malam, sampai kos kami ditutup dan terpaksa nggedor-nggedor lantas kami dimarahi ibu penjaga kos yang galak.

Untuk menghindari itu, kami membuat jadwal menginap di tempat teman yang kosnya bisa keluar-masuk kapan saja, lalu nge-date bareng-bareng ke warnet tengah malam lalu pulang pagi, karena warnet memberi paket yang jauh lebih murah pada tengah malam. Alhasil, kalau malam minggu kami yang jomblo ini jadi kalong. Hihihi…..

Lalu sekarang semua jadi begitu mudah. Komputer ada di depan mata, koneksi bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dan biayanya pun tidak semahal dahulu. Teman-teman yang semula gaptek sekarang sudah punya facebook semua. Aku bertemu kawan-kawan lama, yang bahkan aku sudah melupakannya (ssstttt……jangan bilang-bilang ya). Informasi dapat diakses dengan cepat. Seolah segala sesuatunya jadi lebih mudah dan cepat dilakukan.

Hanya saja…. setelah semua kemudahan yang dihasilkan oleh teknologi ini, aku justru tidak pernah lagi berkoresponden dengan sahabat-sahabat penaku. Ya, mereka ada di friend list friendster dan facebook, tapi kami hanya sesekali saja saling menyapa dengan, “apa kabar?”, “besok aku mau nikah”, “sekarang di mana?”. Itu saja. Padahal kami dahulu berkirim surat hingga berlembar-lembar, seolah kami adalah kawan lama….lama sekali. Aku pun sudah tidak pernah melakukan curhat melalui email, dan sesekali saja menyapa sahabat-sahabat lamaku.

Di kampus, kantor, kafe, orang-orang sibuk dengan laptop dan internetnya. Seseorang tersenyum, tapi ia tidak sedang tersenyum pada teman yang duduk di sebelahnya, atau di depannya, tidak juga pada orang yang berada di belakangnya, tapi pada monitor yang menyala di depannya.

Aku teringat cerita kawan-kawanku yang telah lama tinggal di Jogja. Aku selalu menyukai cerita mereka tentang angkringan. Sebuah gerobak dengan tenda dan kursi atau hanya sekedar tikar untuk alas tempat duduk. Orang-orang datang, menikmati makanan atau sekedar segelas kopi hangat, mengobrol, bahkan dengan orang-orang yang baru ditemuinya di situ. Hingga saat ini suasana itu tidak hilang sepenuhnya. Itu masih ada. Dan aku mencarinya saat aku begitu jenuh dengan dunia yang dijejali teknologi ini.

Segelas jahe hangat pada malam hari di balik tenda angkringan sangat nikmat, lalu aku berbincang, bersama kawan, atau penjual angkringan, atau pembeli lainnya, tentang Jogja, tentang sultan, tentang kerasnya hidup, dan membiarkan riuhnya jalan raya yang sangat padat dengan kendaraan-kendaraan bermotor, mengabaikan bunyi-bunyi mesin dan klakson, mengabaikan iklan dan spanduk, menikmati hidup kami, yang sebenarnya.


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Tags:

13 Responses to “Balada Internet”

  1. myusuflubis Says:

    saya dapat pelajaran banyak dari tulisan dan blog saudara ini, trimakasih ya

  2. Blog Detik » Blog Archive » Inilah Pemenang Kontes “My First Online Experience” Says:

    [...] arista budiyono 5. Jon Riah Ukur, SE 6.Anisa Fitri Nurhalida 7. Mustika Rahmathya 8. Rita Maasi 9. Weka Swasti Wardhani 10 Alif Teguh Imam [...]

  3. Tongkonan Says:

    Pengalaman yang cukup menarik mas. Saya mengenal internet dan komputer setelah jadi mahasiswa. :)

  4. lamunadi Says:

    Selamat menang di kontes ini….. :)
    Salam.

  5. jonru Says:

    Selamat ya, atas kemenangannya. Moga makin sukses!

  6. ngomonggratis Says:

    @all: terima kasih……
    @tongkonan: ini “mbak” :)

  7. supriatno Says:

    congrats for the winner…

  8. hamidin krazan Says:

    selamat ya..

  9. cow431 Says:

    selamat ………..

  10. ngomonggratis Says:

    saya adalah salah satu pemenang lomba menulis “My First Online Experience” yang diadakan blogetik beberapa waktu lalu. menurut keterangan blogdetik, hadiah akan dikirim ke alamat peserta yang berada di luar jakarta. namun sampai sekarang hadiah marchendise dari blogdetik belum saya terima. mengingat telah 10 hari dari sejak pengumuman lomba, dengan pengiriman yang tepat dan wajar, seharusnya paket tersebut sudah saya terima bahkan bila dikirim melalui pos yang bukan kilat khusus sekali pun. saya sudah mencoba menghubungi email admin blogdetik namun tidak ada tanggapan hingga sekarang. apakah memang benar sayembara ini bukan penipuan belaka dan hadiah benar-benar akan diberikan? setidaknya admin blogdetik menanggapi email dan keluhan saya ini. terima kasih.

  11. Inilah Pemenang Kontes “My First Online Experience” | link.day2u.info Says:

    [...] arista budiyono 5. Jon Riah Ukur, SE 6.Anisa Fitri Nurhalida 7. Mustika Rahmathya 8. Rita Maasi 9. Weka Swasti Wardhani 10 Alif Teguh Imam [...]

  12. ngomonggratis Says:

    hadiahnya sudah saya terima. terimakasih, blogdetik….

  13. Rani Puja Ningrum Says:

    blogdetik bagus juga yah, jadi pengen ngeblog euy.

    Rani Puja
    vigrx Inc. Jakarta

Leave a Reply